Categories
Artikel Riba

Pengertian Riba

“Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba…”
(Al-Baqarah : 275)

Pengertian riba secara etimologi, berarti tambahan (al fadhl waz ziyadah). (Lihat Al-Mu’jam Al-Wasith, 350 dan Al-Misbah Al-Muniir, 3: 345).

Sedang pengertian riba menurut Ibnu Qudamah rahimahullah adalah,

وَكُلُّ قَرْضٍ شَرَطَ فِيهِ أَنْ يَزِيدَهُ ، فَهُوَ حَرَامٌ ، بِغَيْرِ خِلَافٍ

“Setiap utang yang dipersyaratkan ada tambahan, maka itu adalah haram. Hal ini tanpa diperselisihkan oleh para ulama.” (Al-Mughni, 6: 436)

Transaksi jual beli dengan akad kredit yang sering dikhawatirkan terjerumus pada praktek riba. Karena kalau dilihat sepintas, memang mirip antara transaksi riba dengan yang non riba atau kita sebut saja transaksi syariah.

Mari kita lihat perbedaan riba dan laba dengan contoh kasus;

Transaksi pertama,

Beli motor seharga 10 juta, dijual dengan bunga 1% per bulan, dicicil satu tahun,
(bunga setahun jadi 12%)
untungnya Rp 1.200.000, disebut RIBA

Transaksi ke-dua,

Beli motor seharga 10 juta lalu dijual dengan untung 12% dan dicicil selama satu tahun, untungnya Rp 1.200.000 disebut LABA

Kenapa yang satu disebut riba sedang yang lain disebut laba, padahal kan untungnya sama-sama Rp 1.200.000?

TRANSAKSI PERTAMA RIBA karena;

1. Tidak ada kepastian harga
Dalam contoh di atas bunga 1% perbulan. Bila si pembeli disiplin membayar tiap bulan, memang untung bagi penjual Rp 1.200.000.

Tapi kalau si pembeli nunggak dan baru bisa melunasi di bulan ke 15. Maka bunga yang harus dibayar menjadi 15% alias untungnya jadi Rp 1.500.000.

Jadi semakin lama waktu pelunasan, harga jadi semakin mahal.

2. Sistem riba di atas SELALU menguntungkan si penjual dan bisa merugikan pembeli, padahal yang namanya bisnis harus siap untung dan rugi.

TRANSAKSI KE-DUA LABA karena;

1. Akadnya jelas
Harga sudah pasti. Dalam contoh di atas sudah disepakati harganya Rp 11.200.000 untuk dicicil selama 12 bulan.

2. Misal si pembeli baru bisa melunasi di bulan ke-15, maka harga yang dibayarkan tetap Rp 11.200.000 tidak boleh ditambah lagi. Tidak boleh ada embel-embel membayar denda atau administrasi.

Kalau begitu si penjual jadi rugi waktu? Itulah namanya bisnis. Tidak melulu mendapatkan keuntungan. Harus siap rugi juga. Begitulah bisnis dengan cara syariah. Bisnis yang menuntut keadilan bagi pembeli maupun penjual.

Sebenarnya apa tujuan Islam melarang riba?

Bila antara pembeli dan penjual saling rela, saling sepakat, harusnya kan tidak apa-apa dijalankannya transaksi riba?

Hukum Islam itu mengatur agar manusia mendapat kemashlahatan sebesar-besarnya tanpa mengalami kerugian walaupun hanya sedikit.

Nah ternyata sistem Islam itu melindungi semuanya. Harus sama hak dan kewajiban antara si pembeli dan penjual. Sama-sama bisa untung, sama-sama bisa rugi.

Jadi kedudukan pembeli dan penjual itu setara. Coba bayangkan dalam sistem ribawi, kita sebagai pembeli selalu dalam posisi yang sangat lemah, lebih mudah mengalami kerugian.

Berikut gambaran serba salahnya berurusan dengan riba;

  • membayar tepat waktu, kena riba
  • terlambat membayar, kena denda
  • melunasi hutang sebelum batas waktu yang ditentukan, kena penalti
  • tidak bisa membayar cicilan dalam jangka waktu tertentu, kena sita

Sudah lebih faham kenapa Allah melarang RIBA?

Sumber:
Disadur dari status Much Nasrulloh
Rumaysho.com

By madanipro

Madani Properti Syariah (WA 0813-9504-9700), penyedia info perumahan syariah: kepemilikan rumah dengan cash atau KPR syariah.

https://wa.me/6281395049700

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *